Minggu, 27 April 2014

Kategori Sekolah

Pengelompokan penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia berdasarkan UU No. 20/2003 dan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 11 dan 16 disebutkan bahwa terdapat beberapa kategori atau jenis sekolah di Indonesia. Jenis sekolah dapat dibedakan sebagai berikut:
1.  Sekolah Formal Standar atau Sekolah Potensial
Sekolah jenis pertama adalah kategori sekolah formal standar atau sekolah potensial (calon SSN), yaitu sekolah yang relatif masih banyak kekurangan/kelemahan untuk memenuhi kriteria sekolah yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN Tahun 2003 pasal 35 maupun dalam PP Nomor 19 Tahun 2005. Ditegaskan dalam penjelasan PP Nomor 19 Tahun 2005 pasal 11 ayat 2 dan 3 bahwa kategori sekolah formal standar adalah sekolah yang belum memenuhi (masih jauh) dari SNP atau sekolah yang diproyeksikan memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam pembinaan sekolah.
2.  Sekolah Formal Mandiri atau Sekolah Standar Nasional (SSN)
Sekolah jenis kedua, adalah kategori sekolah formal mandiri atau disebut dengan sekolah standar nasional (SSN). Sekolah kategori ini adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi SNP. Sekolah standar nasional di samping harus memenuhi standar nasional pendidikan seperti diamanatkan dalam PP 19 tahun 2005, juga harus memiliki standarisasi dari kedelapan aspek tersebut secara nasional. Dengan demikian apabila sudah ditetapkan sebagai SSN diharapkan keberadaan SSN di seluruh Indonesia memiliki karakteristik yang identik atau hampir sama.
3.  Sekolah Formal Mandiri dan atau memiliki keunggulan lokal
Sekolah jenis ketiga, adalah kategori sekolah formal mandiri dan atau memiliki keunggulan lokal. Ditegaskan dalam pasal 14 PP Nomor 19 Tahun 2005 bahwa sekolah kategori ini dapat dikategorikan dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, IPTEK, estetika atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan. Dalam Renstra Depdiknas tahun 2005-2009 disebutkan bahwa sesuai amanat UUSPN No. 20 tahun 2003 pada setiap provinsi dan kabupaten/kota secara bertahap dikembangkan sekurangkurangnya terdapat satu sekolah berbasis keunggulan lokal.
4.  Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
Sekolah jenis keempat, adalah kategori sekolah bertaraf internasional (SBI). Dalam Buku Pedoman Sistem Penyelenggaraan SBI untuk Pendidikan Dasar dan Menengah (2006) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Manajemen Dikdasmen dijelaskan bahwa SBI adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didiknya berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP) Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Dalam Buku Penjaminan Mutu Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2007) bahwa SBI adalah sekolah yang memenuhi Indikator Kinerja Kunci Minimal (IKKM) ditambah dengan Indikator Kinerja Kunci Tambahan (IKKT). Kurikulumnya mengacu pada SNP yang diperkaya, diperdalam, diperluas, dan dikembangkan sesuai dengan standar pendidikan negara-negara yang tergabung dalam Organization of Economic Cooperation Development (OECD) dan negara maju lainnya. Di samping itu, lulusannya minimal menguasai penggunaan satu bahasa asing secara aktif dan diterima di satuan pendidikan luar negeri yang terakreditasi atau diakui di negaranya.
5.  Sekolah Franchise Asing
Di samping ”sekolah nasional”, terdapat jenis sekolah lain yang dapat diselenggarakan di Indonesia, adalah sekolah franchise asing atau sekolah yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing, yaitu merupakan lembaga pendidikan dasar dan menengah asing yang terakreditasi di negaranya diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan di wilayah NKRI dengan menggunakan kurikulum asing, dengan catatan wajib memberikan pendidikan agama dan kewarganegaraan bagi peserta didik warga negara Indonesia (WNI) dan wajib bekerjasama dengan lembaga pendidikan di wilayah NKRI yaitu dengan mengikutsertakan pendidik dan tenaga kependidikan dari Indonesia.
6.  Sekolah Asing
Sekolah asing adalah yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing di wilayah NKRI, yang peserta didiknya adalah warga Negara asing dan menggunakan sistem yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia. Kategori sekolah ini, Pemerintah Indonesia tidak membuat regulasi yang sifatnya pembinaan, namun hanya sekedar memberikan legitimasi (pengakuan) dalam rangka pemberian izin operasional

Jenis-Jenis Tunjangan Bagi Guru

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesian guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum tersebut meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.
Pemenuhan hak guru untuk memperoleh penghasilan didasari atas pertimbangan prestasi dan pengakuan atas profesionalitasnya. Dengan demikian, penghasilan dimaksud merupakan hak yang diterima oleh guru dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesian yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru sebagai pendidik profesional.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan tonggak sejarah bagi peningkatan kesejahteraan guru di Indonesia. Menyusul lahirnya UU ini, pemerintah telah mengatur beberapa sumber penghasilan guru selain gaji pokok, yaitu tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan fungsional, dan tunjangan khusus.
1. Tunjangan Profesi
Guru profesional dituntut oleh undang-undang memiliki kualifikasi akademik tertentu dan empat kompetensi yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional atau akademik. Sertifikasi guru merupakan proses untuk memberikan sertifikat pendidik kepada mereka. Sertifikat pendidik dimaksud merupakan pengakuan negara atas derajat keprofesionalan guru.
Seiring dengan proses sertifikasi inilah, pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menamanatkan bahwa “Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru – Badan PSDMPK-PMP 72
yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat”.
Pemberian tunjangan profesi diharapkan akan mampu mendorong dan memotivasi guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan kinerja profesionalnya dalam melaksanakan tugas di sekolah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, dan penilai peserta didiknya.
Besarnya tunjangan profesi ini setara dengan satu kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama. Guru yang sudah bersertifikat akan menerima tunjangan profesinya jika guru yang bersangkutan mampu membuktikan kinerjanya yaitu dengan mengajar 24 jam tatap muka per minggu dan persyaratan lainnya.
Guru akan menerima tunjangan profesi sampai yang bersangkutan berumur 60 tahun. Usia ini adalah batas pensiun bagi PNS guru. Setelah berusia 60 tahun guru tetap berhak mengajar di manapun, baik sebagai guru tidak tetap maupun guru tetap yayasan untuk sekolah swasta, dan menyandang predikat guru bersertifikat, namun tidak berhak lagi atas tunjangan profesi. Meski guru memiliki lebih dari satu sertifikat profesi pendidik, mereka hanya berhak atas “satu” tunjangan profesi.
Tunjangan profesi diberikan kepada semua guru yang telah memiliki sertifikat pendidik dan syarat lainnya, dengan cara pembayaran tertentu. Hal ini bermakna, bahwa guru bukan PNS pun akan mendapat tunjangan yang setara dengan guru PNS dengan kualifikasi akademik, masa kerja, serta kompetensi yang setara atau ekuivalen. Bagi guru bukan PNS, tunjangan profesi akan dibayarkan setelah yang bersangkutan disesuaikan jenjang jabatan dan kepangkatannya melalui impassing.Tunjangan profesi tersebut dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3. Tunjangan Fungsional
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 17 ayat (1) mengamanatkan Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan tunjangan fungsional kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Pasal 17 ayat (2) mengamanatkan bahwa subsidi tunjangan fungsional diberikan kepada guru yang bertugas di sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Sehingga dalam pelaksanaannya, tunjangan fungsional dan subsidi tunjangan fungsional ini dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (Pasal 17 ayat (3).
Besarnya tunjangan fungsional yang diberikan untuk guru PNS seharusnya sesuai dengan jenjang jabatan fungsional yang dimiliki. Namun saat ini baru diberikan tunjangan tenaga kependidikan berdasarkan pada golongan/ruang kepangkatan/jabatannya. Khusus mengenai besarnya subsidi tunjangan fungsional bagi guru bukan PNS, agaknya memerlukan aturan tersendiri, berikut persyaratannya.
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru – Badan PSDMPK-PMP 73
4. Tunjangan Khusus
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan Profesor merupakan komitmen Pemerintah untuk terus mengupayakan peningkatan kesejahteraan guru dan dosen, di samping peningkatan profesionalismenya. Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 18, disebutkan bahwa guru yang diangkat oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dan ditugaskan di di daerah khusus berhak memperoleh tunjangan khusus yang diberikan setara dengan satu kali gaji pokok Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.
Mengingat tunjangan khusus adalah tunjangan yang diberikan kepada guru di Daerah Khusus, sasaran dari program ini adalah guru yang bertugas di daerah khusus. Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang dimaksudkan dengan Daerah Khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang, daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain.
a. Daerah terpencil atau terbelakang adalah daerah dengan faktor geografis yang relatif sulit dijangkau karena letaknya yang jauh di pedalaman, perbukitan/pegunungan, kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau terpencil; dan daerah dengan faktor geomorfologis lainnya yang sulit dijangkau oleh jaringan transportasi maupun media komunikasi, dan tidak memiliki sumberdaya alam.
b. Daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil adalah daerah yang mempunyai tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang relatif rendah serta tidak dilibatkan dalam kelembagaan masyarakat adat dalam perencanaan dan pembangunan yang mengakibatkan daerah belum berkembang.
c. Daerah perbatasan dengan negara lain adalahbagian dari wilayah negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah negara di darat maupun di laut kawasan perbatasan berada di kecamatan; dan pulau kecil terluar dengan luas area kurang atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum Internasional dan Nasional.
d. Daerah yang mengalami bencana alam yaitu daerah yang terletak di wilayah yang terkena bencana alam (gempa, longsor, gunung api, banjir, dsb) yang berdampak negatif terhadap layanan pendidikan dalam waktu tertentu.
e. Daerah yang mengalami bencana sosial dan konflik sosial dapat menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi yang membahayakan guru dalam melaksanakan tugas dan layanan pendidikan dalam waktu tertentu.
f. Daerah yang berada dalam keadaan darurat lain adalah daerah dalam keadaan yang sukar/sulit yang tidak tersangka-sangka mengalami bahaya, kelaparan dan sebagainya yang memerlukan penanggulangan dengan segera.
Tunjangan khusus yang besarnya setara dengan satu kali gaji pokok guru yang diangkat oleh
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru – Badan PSDMPK-PMP 74
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.
Penetapan Daerah Khusus ini rumit dan tentatif adanya. Sebagai “katup pengaman” sejak tahun 2007, pemerintah memberikan bantuan kesejateraan untuk guru yang bertugas di Daerah Khusus atau Daerah Terpencil di 199 kabupaten di Indonesia. Sampai tahun 2010 tunjangan tersebut mencapai Rp 1.350.000 per bulan.
Harapan yang ingin dicapai dari pemberian tunjangan khusus ini adalah selain meningkatkan kesejahteraan guru sebagai kompensasi daerah yang ditempati sangat sulit, juga memotivasi guru untuk tetap mengajar di sekolah tersebut. Pada sisi lain, pemberian tunjangan ini bisa sebagai insentif bagi guru baru untuk bersedia mengajar di Daerah Khusus ini. Belum terpenuhinya jumlah guru di daerah terpencil diharapkan juga semakin mudah dilakukan dengan insentif tunjangan khusus ini.
5. Maslahat Tambahan
Salah satu komponen penghasilan yang diberikan kepada guru dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah pemberian maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi (Pasal 15 ayat 1). Maslahat tambahan merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Maslahat tambahan merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh guru dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 19 ayat (2), dimana pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan bagi guru. Tujuan pemberian maslahat tambahan ini adalah untuk: (1) memberikan penghargaan terhadap prestasi, dedikasi, dan keteladanan guru dalam melaksanakan tugas; (2) memberikan penghargaan kepada guru sebelum purna tugas terhadap pengabdiannya dalam dunia pendidikan; dan (3) memberikan kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih baik dan bermutu kepada putra/putri guru yang memiliki prestasi tinggi. Dengan demikian, pemberian maslahat tambahan akan bermanfaat untuk: (i) mengangkat citra, harkat, dan martabat profesi guru; (2) memberikan rasa hormat dan kebanggaan kepada penyandang profesi guru; (3) merangsang guru untuk tetap memiliki komitmen yang konsisten terhadap profesi guru hingga akhir masa bhakti; dan (4) meningkatnya motivasi guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.

Komponen Administrasi Guru

Masing-masing perangkat itu adalah:
1) Silabus
2) Kalender Pendidikan
3) ProgramTahunan
4) Program Semester
5) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
6) Rencana Pelaksanaan Harian
7) Buku Pelaksanaan Harian
8) Presensi Siswa
9) Catatan Hambatan Belajar Siswa
10) Daftar Buku Pegangan Guru dan Siswa
11) Analisis KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal
12) Kisi-kisi Soal
13) Soal-soal Ulangan
14) Buku Informasi Penilaian
15) Analisis Butir Soal
16) Analisis Hasil Ulangan
17) Program/Pelaksanaan Perbaikan
18) Program/Pelaksanaan Pengayaan
19) Daftar Pengembalian Hasil Ulangan
20) Buku Ulangan Bergilir
21) Daftar Nilai
22) Laporan Penilaian Akhlak Mulia dan Kepribadian Siswa
23) Buku Tugas Terstruktur
24) Buku Tugas Mandiri
25) SK Pembagian Tugas
26) Mengisi Buku Kemajuan Kelas dan
27) Jadwal Mengajar.

ADMINISTRASI GURU PROFESIONAL LENGKAP

KALO SUDAH MEMILIKI 14 KOMPONEN DIBAWAH INI BARU LENGKAP ..
1.    MENYUSUN SILABUS 
2.           MENYUSUN PROGRAM TAHUNAN
3.           MENYUSUN PROGRAM SEMESTER
4.           MENYUSUN RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)
5.           MENENTUKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM)
6.           BUKU BAHAN PENGAJARAN
7.           BUKU REFERENSI PENGAJARAN
8.           JURNAL PENGAJARAN
9.           KISI-KISI SOAL, DAN BANK/KUMPULAN SOAL-SOAL
10.    DAFTAR NILAI
11.    ANALISIS HASIL NILAI
12.    BUKU PROGRAM PERBAIKAN
13.    BUKU PROGRAM PENGAYAAN DAN TINDAK LANJUT
14.    BUKU CATATAN PERKEMBANGAN ANAK

Perjalanan Kurikulum di Indonesia

Indonesia telah beberapa kali memberlakukan kurikulum yang tidak lain bertujuan untuk memutakhirkan pengetahuan agar tidak usang dan tertinggal. Berikut ini beberapa kurikulum yang pernah diberlakukan di Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Soekisno (2007) :
1. Kurikulum 1947
Kurikulum yang berlaku pada awal kemerdekaan dan diberi nama rentjana peladjaran 1947 ini masih dipengaruhi sistem pendidikan Kolonial Belanda/Jepang dan hanya sebagai penerus dan pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Sistem pendidikan pada masa itu lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
2. Kurikulum 1952
Kurikulum ini diberi nama rentjana peladjaran terurai 1952 dan merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya dan sudah mengarah pada sistem pendidikan nasional. Pelajaran pada kurikulum ini lebih memperhatikan dan menekankan pada materi yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Kurikulum 1964
Pemerintah Indonesia kembali menyempurnakan sistem kurikulumnya. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Ciri dari kurikulum ini adalah keinginan pemerintah Indonesia agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum ini merupakan pembaharuan dari Kurikulum sebelumnya (1964), yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus yang merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 ini bertujuan untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Ciri kurikulum 1968 ditandai dengan pendekatan peng-organisasian materi pelajaran dengan pengelompokan suatu pelajaran yang berbeda, yang dilakukan secara korelasional correlated subject curriculum, yaitu mata pelajaran yang satu dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain.
5. Kurikulum 1975
Pada kurikulum 1975, setiap bidang studi dicantumkan tujuannya, sedangkan pada setiap pokok bahasan diberikan tujuan instruksional umum yang dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai satuan bahasan yang memiliki tujuan instruksional khusus. Metode penyampaian satuan bahasan pada kurikulum ini disebut Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Ciri kurikulum pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaannya adalah Dr. Syarif Thayeb ini bersifat Integrated Curriculum Organization dengan jumlah mata pelajaran berdasarkan tingkatan SD mempunyai struktur program, yang terdiri atas 9 bidang studi termasuk mata pelajaran PSPB, pelajaran ilmu alam dan ilmu hayat digabung menjadi satu dengan nama Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Pelajaran Ilmu Aljabar dan Ilmu Ukur digabung menjadi Matematika. Jumlah mata pelajaran di SMP dan SMA menjadi 11 bidang studi, Jurusan di SMA dibagi atas 3 yaitu jurusan IPA, IPS dan Bahasa.
6. Kurikulum 1984
Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1975. Kurikulum pada masa Prof. Dr. Nugroho Notosusanto (Mendikbud) ini memiliki ciri sebagai berikut:
  • bersifat content based curriculum
  • program mata pelajarannya mencakup 11 bidang studi
  • jumlah mata pelajaran di SMP 11 bidang studi
  • jumlah mata pelajaran di SMA-15 bidang studi untuk program inti dan 4 bidang studi untuk program pilihan
  • penjurusan di SMA dibagi atas 5 (lima) jurusan yaitu program A1 (ilmu fisika), program A2 (ilmu biologi), program A3 (ilmu sosial), program A4 (ilmu budaya), program A5 (ilmu agama).
7. Kurikulum 1994
Kurikulum selanjutnya yang pernah diberlakukan adalah kurikulum 1994, namun banyak pengelola pendidikan mengeluhkan berbagai kelemahan dan kekurangan kurikulum ini. Ciri kurikulum pada masa Prof. Dr. Ing. Wadiman Djoyonegoro (Mendikbud) ini adalah:
  • bersifat objective based curriculum
  • nama SMP dan SLTP kejuruan diganti menjadi SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama)
  • mata pelajaran PSBP dan keterampilan ditiadakan
  • program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran
  • nama SMA diganti SMU (Sekolah Menengah Umum)
  • program pengajaran di SMU disusun dalam 10 mata pelajaran
  • penjurusan dibagi atas tiga jurusan (dilakukan di kelas 2), yaitu jurusan IPA, IPS, dan Bahasa
  • SMK memperkenalkan program pendidikan sistem ganda (PSG)
  • aspek yang dikedepankan dinilai terlalu padat, sehingga sangat membebani siswa dan berpengaruh pada merosotnya semangat belajar siswa, sehingga mutu pendidikan pun semakin terpuruk.
8. Kurikulum 2004 (KBK)
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang hanya berlaku sampai tahun 2006 ini pada dasarnya merupakan gagasan dari Kurikulum Berbasis Kemampuan Dasar (KBKD) yang pernah diperkenalkan oleh Boediono dan Ella (1999), yang memfokuskan pada wujud pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. Ciri kurikulum pada masa Prof. H. Abdul Malik Fajar (Mendikbud) ini adalah:
  • bersifat competency based curriculum
  • sebutan SLTP menjadi SMP, sebutan SMU menjadi SMA
  • program pengajaran di SD disusun dalam 7 mata pelajaran, SMP 11 mata pelajaran, SMA 17 mata pelajaran
  • penjurusan di SMA dilakukan di kelas 2 dan dibagi atas 3 jurusan yaitu Ilmu Alam, Ilmu Sosial, dan Bahasa,
  • memfokuskan aspek kompetensi siswa dan prinsip pembelajaran berpusat pada siswa serta menggunakan pendekatan menyeluruh dan kemitraan yang mengutamakan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning)
9. Kurikulum 2006 (KTSP)
Kurikulum yang terkenal dengan sebutan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) ini disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan dan diberlakukan mulai tahun ajaran 2006/2007, menggantikan dan sebagai kelanjutan dari kurikulum 2004 (KBK). Perubahannya hanya pada penentuan mata pelajaran masing-masing bidang studi dengan penjabaran aspek-aspeknya. Kurikulum ini lahir seiring dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Perbedaan KTSP dari kurikulum yang pernah berlaku sebelumnya terletak pada sistem pengembangannya. Pengembangan kurikulum sebelum KTSP dilakukan secara terpusat (sentralistik), sedangkan KTSP dikembangkan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan karakteristik dan perbedaan daerah (desentralistik) masing-masing. Ciri KTSP sebagai berikut:
  • menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual, maupun klasikal
  • berorientasi pada hasil belajar (learning out comes) dan keberagaman
  • penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi
  • sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur pendidikan
  • penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi
  • memiliki peluang untuk dikembangkan oleh satuan pendidikan.
10. Kurikulum 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menggodok kurikulum baru yang rencananya akan diberlakukan pada tahun 2013 mendatang. Semoga kurikulum baru itu tidak memberatkan guru dan siswa serta berupaya memutakhirkan pengetahuan dengan mengedepankan akhlak mulia. 
Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013.
Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, yang menyangkut metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-rata 44,46
Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa.
Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak asocial kepada siswa dan teman sejawat lainnya.
Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagai seorang yang akan digugu dan ditiru siswa.
Kesiapan guru sangat urgen dalam pelaksanaan kurikulum ini. Kesiapan guru ini akan berdampak pada kegiatan guru dalam mendorong mampu ;ebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran.

Selasa, 01 April 2014

BAYI TABUNG

(Tugas Bioteknologi dari Adinda Sri Yuani dan Frea Adira)

Beberapa tahun terakhir perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang sungguh sangat mencengangkan. Berbagai macam penelitian dan penemuan baru memunculkan sebuah kemajuan yang luar biasa. Sama halnya dengan kemajuan dibidang bioteknologi. Perkembangan-perkembangan bioteknologi bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, salah satunya dalam bidang reproduksi. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa untuk menghasilkan keturunan diperlukan terjadinya fertilisasi internal atau bertemunya sel sperma dan sel telur didalam tubuh betina (induknya). Fertilisasi atau pembuahan adalah proses bertemunya kedua sel gamet (jantan dan betina) atau lebih tepatnya peleburan dua sel gamet dapat berupa nukleus atau sel bernukeleus untuk kemudian membentuk zigot. Pada dasarnya melibatkan plasmogami (pengabungan sitoplasma) dan kariogami (penyatuan nukleus). Setelah terjadi pembuahan, zigot akan mengalami pembelahan (blastosis) dan kemudian tumbuh berkembang menjadi embrio. Namun, ada pula beberapa pasangan suami istri yang tidak bisa mendapatkan keturunan melalui proses fertilisasi secara alami dikarenakan beberapa sebab. Menurut Prof. Dr. dr. Sudraji Sumapraja SpOG (K), ada 10%-15% pasutri di seluruh dunia yang mengalami gangguan kesuburan. 90% di antaranya telah diketahui penyebabnya. Dari persentase tersebut, 40% disumbangkan oleh pihak perempuan sedangkan 30% dari pihak laki-laki dan sisanya dari kedua belah pihak. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tehnologi, fertilisasi (pembuahan) bisa dilakukan diluar tubuh seorang wanita, atau yang sering kita sebut In Vitro Fertlilization(IVF), yaitu dengan mempertemukan sel sperma dengan sel ovum pada sebuah cawan, dan apabila sudah bersatu dan menjadi embrio, akan ditanam kembalai pada tubuh seorang wanita. IVF telah menjadi teknologi yang dikenal umum dan banyak diterapkan dibanyak negara maju untuk membantu pasangan yang kesulitan mendapatkan bayi.

a.       Apa pengertian bayi tabung?
b.      Bagaimana proses dari bayi tabung?
c.       Apa saja kelebihan dan kekurangan bayi tabung?
d.      Apa saja masalah yang muncul akibat dari bayi tabung?
e.       Bagaimana peraturan negara mengenai bayi tabung? 

a.       Pengertian Bayi tabung, atau yang sering disebut In Vitro Fertilization (IVF) adalah proses pembuahan sel ovum oleh sel sperma di luar tubuh seorang wanita (fertilisasi eksternal). Proses ini dilakukan untuk mempermudah pasangan suami istri untuk memperoleh anak

b.      Proses Bayi Tabung Ketika sepasang suami istri telah sepakat dan berkomitmen untuk mendapatkan anak melalui proses bayi tabung, para ahli medis tidak serta merta langsung mengambil sel sperma dari pria dan sel ovum dari wanita. Akan tetapi, mereka berdua harus menjalani beberapa tahapan agar hasil dari bayi tabung bisa maksimal dan sesuai harapan. Jika melihat ke masa lalu, persentasi keberhasilan bayi tabung hanya sekitar 4% saja, namun seiring dengan perkembangan tehnologi, persentase ini kemudian meningkat menjadi 25%.
      Adapun proses pembuatan bayi tabung berlangsung dalam tiga tahap, yaitu:
                I.            Tahap Persiapan Petik Ovum (Per-Uvu) Tahap ini meliputi fase down regulation dilanjutkan terapi stimulasi. Fase down regulation merupakan suatu proses untuk menciptakan suatu keadaan seperti menopouse agar indung telur siap menerima terapi stimulasi. Tahapan ini berlangsung antara dua minggu hingga satu bulan. Setelah fase down regulation selesai lalu dilanjutkan dengan terapi stimulasi. Tujuan dari terapi ini untuk merangsang pertumbuhan folikel pada indung telur. Dengan demikian jumlahnya semakin banyak sehingga pada akhirnya bisa didapatkan sel telur yang telah matang ketika tiba pada operasi petik ovum.
              II.            Tahap operasi petik ovum/Ovum Pick-Up (OPU). Tahap ini bisa dilakukan ketika sudah terdapat tiga folikel atau lebih yang berdiameter 18 mm pada pagi hari dan pertumbuhan folikelnya seragam. Selain itu kadar E2 juga harus mencapai 200pg/ml/folikel matang.
        III.            Tahap Post OP. Tahap ini meliputi dua fase, yaitu transfer embrio dilanjutkan terapi obat penunjang kehamilan. Fase transfer embrio merupakan proses memasukkan dua atau maksimum tiga embrio yang sudah terseleksi ke dalam rahim. Setelah proses ini selesai lalu dilanjutkan dengan terapi obat penunjang kehamilan. Tujuan dari terapi tersebut untuk mempersiapkan rahim agar bisa menerima implantasi embrio sehingga embrio bisa berkembang normal.
     c.       Kelebihan dan Kekurangan Bayi Tabung Mekanisme mendapatkan anak melalui bayi tabung memang sebuah terobosan baru dalam dunia medis. Tidak sedikit pasangan suami istri yang divonis dokter mandul atau steril, bisa mendapatkan anak melalui proses bayi tabung. Namun, apabila kita telaah lagi, bayi tabung ini memiliki beberapa keuntungan dan kerugian yang harus kita pertimbangkan lagi sebelum kita memutuskan untuk menggunakannya. Beberapa kelebihan yang dimiliki oleh bayi tabung adalah sebagai berikut: 
                I.        Mampu mengatasi permasalahan tidak kunjung memiliki anak bagi penderita kelainan organ reproduksi ataupun lainnya
                 II. Tidak perlu melakukan hubungan suami istri berulang kali untuk mendapatkan anak, melainkan hanya cukup memberikan sel telur dari sang wanita dan sperma dari sang pria. Sedangkan kekurangan dari bayi tabung adalah sebagai berikut: I. Meskipun tehnologi sudah bisa menaikkan persentase keberhasilan fertilisasi bayi tabung menjadi 25%, tetap hanya 15% yang berhasil melahirkan bayi II. Kasus cacat bawaan memang banyak ditemukan pada pembuahan buatan dibandingkan dengan pembuahan alami. Artinya, dampak bayi tabung memang berisiko menimbulkan cacat bawaan pada bayi. Cacat bawaan ini mencakup cacat yang terlihat maupun yang tidak, semisal kelainan pada ginjal, jantung, maupun organ tubuh lainnya.
III.              Risiko bayi terlahir kembar. Pada proses bayi tabung, pembuahan dilakukan terhadap beberapa sel telur sekaligus. Dari beberapa sel telur tersebut kadang-kadang berkembang secara bersamaan di dalam rahim. Akibatnya, terjadi kehamilan kembar yang bisa lebih dari dua. Jika ini terjadi, peluang janin untuk bisa terus berkembang di dalam rahim akan semakin sedikit.
IV.              Berisiko menyebabkan pendarahan saat tahap pengambilan sel telur (Ovum Pick-Up). Meskipun pada faktanya jarang terjadi, namun penggunaan jarum khusus yang dimasukkan ke dalam rahim saat proses pengambilan sel telur, tetap membuka peluang terjadinya pendarahan.
V.                 Harga yang mahal yang dipatok oleh tiap-tiap ahli medis menjadi kendala tersendiri pada proses bayi tabung Meskipun proses bayi tabung memiliki banyak kekurangan, kenyataan menunjukkan bahwa sukses dari nilai dan kualitas protokol untuk IVF selama dua dekade terakhir merupakan fakta yang tak dapat disangkal lagi. Pada tahun 1995 saja, lebih dari 200.000 bayi telah dilahirkan oleh sekitar 1.000 klinik di seluruh dunia. Kini tergantung dari setiap pengelola untuk menggunakan protokol yang sederhana sesuai dengan kondisi, situasi, fasilitas, dan tingkat penguasaan iptek reproduksi pengelola, yang terpenting adalah pertimbangan terhadap kemampuan biaya dan kenyamanan penderita infertil.
d.      Masalah yang Muncul dari Bayi Tabung
Selain memiliki banyak kekurangan dalam proses bayi tabung seperti kemungkinan pendarahan, anak kembar, cacat bawaan dan kerugian lain, bayi tabung masih menimbulkan masalah , diantaranya:
                                                       I.            Muncul wanita yang menyewakan rahimnya sebagai tempat implantasi bayi tabung, Dalam perjanjian sewa rahim ini ditentukan banyak persyaratan untuk melindungi kepentingan semua pihak yang terkait. Wanita yang rahimnya disewa biasanya meminta imbalan uang yang sangat besar. Suami – istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda, sehat dan punya kebiasaan hidup yang sehat dan baik.
                                                    II.            Sel telur atau sperma dari donor, masalah ini muncul apabila salah satu dari pasangan suami istri tersebut diketahui dalam keadaan mandul, sehingga harus mencari orang lain yang merelakan atau bersedia untuk mendonorkan sel sperma atau sel ovumnya. Biasanya si pendonor tidak tahu kepada siapa selnya akan didonorkan, sedangkan si penerima juga tidak memikirkan dari siapa dia mendapat sel donor tersebut
                                                 III.            Munculnya bank sperma, praktik bayi tabung membuka peluang pula bagi didirikannya bank – bank sperma. Pasangan yang mandul bisa mencari benih yang subur dari bank – bank tersebut. Bahkan orang bisa menjual – belikan benih – benih itu dengan harga yang sangat mahal misalnya karena benih dari seorang pemenang Nobel di bidang kedokteran, matematika, dan lain-lain. Praktik bank sperma adalah akibat lebih jauh dari teknik bayi tabung. Kini bank sperma malah menyimpannya dan memperdagangkannya seolah – olah benih manusia itu suatu benda ekonomis. Tahun 1980 di Amerika sudah ada 9 bank sperma non – komersial. Sementara itu bank – bank sperma yang komersil bertumbuh dengan cepat. Wanita yang menginginkan pembuahan artifisial bisa memilih sperma itu dari banyak kemungkinan yang tersedia lengkap dengan data mutu intelektual dari pemiliknya. Identitas donor dirahasiakan dengan rapi dan tidak diberitahukan kepada wanita yang mengambilnya, kepada penguasa atau siapapun.

e.       Peraturan Negara Mengenai Bayi Tabung Beberapa pasangan suami istri yang telah berhasil mendapatkan anak melalui proses bayi tabung masih harus memberikan penjelasan atau bukti-bukti bahwa sperma dan ovum yang diambil adalah benar-benar dari mereka dan tempat penanaman ovum juga berada di rahim sang istri serta beberapa penjelasan lain yang meyakinkan status si anak. Negara memiliki beberapa undang-undang mengenai bayi tabung sebagai berikut:
Jika benihnya berasal dari suami istri yang sah. Jika benihnya berasal dari suami istri, dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim istri, maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik)dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami, maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. dalam hal ini suami dari istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sahnya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. II. Jika salah satu benihnya berasal dari donor Jika suami mandul dan istrinya subur, maka dapat dilakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. Sel telur istri akan dibuahi dengan sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan diimplantasikan ke dalam rahim istri. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. III. Jika semua benihnya dari donor Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang yang tidak terikat pada perkawinan, tapi embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan maka anak yang lahir mempunyai status anak sah dari pasangan suami istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah.

KESIMPULAN
a.       Bayi tabung, atau yang sering disebut In Vitro Fertilization (IVF) adalah proses pembuahan sel ovum oleh sel sperma di luar tubuh seorang wanita (fertilisasi eksternal).

b.      Proses dari bayi tabung ada 3 tahap, yaitu tahap persiapan petik ovum, petik ovum, dan post OP.

c.       Bayi tabung memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, kelebihannya adalah membantu pasangan suami istri untuk memperoleh anak dan pasangan suami istri tidak perlu melakukan hubungan seksual berkali kali. Sedangkan kekurangannya adalah kemungkinan kelahiran yang kecil, anak bisa menderita cacat bawaan, kemungkinan pendarahan yang dialami seorang ibu, dan juga kemungkinan anak yang dilahirkan kembar.

d.      Masalah yang ditimbulkan dari proses bayi tabung adalah munculnya wanita yang merelakan rahimnya sebagai tempat peletakan embrio hasil bayi tabung, munculnya ketidakjelasan identitas pemilik sel pendonor, serta munculnya bank-bank sperma.

e.       Peraturan telah membuat peraturan yang jelas mengenai proses kepemilikan bayi tabung jika antara suami istri atau antara pihak pendonor dan penerima tidak sepakat dalam kepemilikan bayi tabung tersebut.



Minggu, 23 Maret 2014

PRO DAN KONTRA PRODUK HASIL REKAYASA GENETIKA

(Tugas Bioteknologi dari Hafika Yunisari Pradina, SMA Kesatuan Bogor)

Perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu terapan dan ilmu muri lainnya, seperti biokimia, biologi molekuler, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan fisika. 
            Bioteknologi adalah cabang biologi yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (enzim, alkohol, antibiotik, asam organik) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dapat digunakan oleh manusia.
            Proses bioteknologi pada umumnya mencakup pengubahan suatu bahan baku oleh aktivitas suatu organism untuk menghasilkan suatu produk akhir yang diinginkan. Bioteknologi dibagi menjadi dua macam yaitu bioteknologi tradisional atau konvensional dan bioteknologi modern.
            Bioteknologi tradisional memiliki ciri semua hasil akhir dan produktivitasnya adalah sebagai proses alamiah, sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh tiap mikroorganisme yang berperan.
Perkembangan genetika molekuler ini sangat pesat, sehingga pada tahun 1970-an telah dikenallah teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetika. Teknologi tersebut memungkikan manusia untuk melakukan suatu rekayasa terhadap susunan informasi dalam materi gentik suatu organism untuk mendapatkan suatu organisme yang mereka impikan. Terlepas dari semua dampak positif yang ada, Ternyata teknologi rekayasa genetika juga menghasilkan berbagai dampak negatif. Reaksi yang ditimbulkan  masyarakat terhadap rekayasa genetika ada bermacam-macam, baik pro, kontra maupun tidak peduli.
Tujuan dari rekayasa genetika pada tanaman adalah untuk mempunyai target dan tujuan antara lain peningkatan produksi, peningkatan mutu produk supaya tahan lama dalam penyimpanan pascapanen, peningkatan kandungan gizi, tahan terhadap serangan hama dan penyakit tertentu, tahan terhadap herbisida, stelrilitas dan fertilitas serangga jantan, toleransi terhadap pendinginan, penundaan kematangan buah, kualitas aroma dan nutrisi, perubahan pigmentasi.
Sedangkan tujuan rekayasa genetika pada mikroba adalah bertujuan untuk meningkatkan efektivitas kerja mikroba tersebut(misalnya mikroba untuk fermentasi, pengikat nitrogen udara, meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat proses kompos dan pembuatan makanan olahan), dan untuk menghasilkan bahan obat-obatan dan kosmetika.

v  Pro atau manfaat baik Rekayasa Genetika
a.       Rasa, nutrisi dan pertumbuhan yang lebih baik
Manipulasi gen pada tanaman diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi mereka juga laju pertumbuhan mereka. Bioteknologi, ilmu genetika makanan rekayasa, dapat digunakan untuk memberikan rasa yang lebih baik untuk makanan.
b.      Resisten terhadap hama dan dapat hidup lebih lama
Benih rekayasa yang tahan terhadap hama dan dapat bertahan dalam kondisi iklim relatif keras. Gen tanaman At-DBF2, ketika dimasukkan ke dalam tomat dan tembakau sel terlihat meningkatkan daya tahan tubuh mereka dengan tanah yang keras dan kondisi iklim. Bioteknologi dapat digunakan untuk memperlambat proses pembusukan makanan.
c.       Dapat menghasilkan makanan baru
Modifikasi genetik makanan dapat digunakan untuk meningkatkan nilai obat makanan tersebut, sehingga membuat vaksin yang dapat dimakan homegrown/inang tersedia.
d.      Dapat modifikasi sifat genetic pada manusia
Memanipulasi sifat tertentu dalam individu.
e.       Meningkatkan sifat positif dan menurunkan sifat negative
f.       Dapat modifikasi DNA manusia
Gen-gen ini dapat artificial diperkenalkan ke genotype manusia lainnya. Rekayasa genetika pada manusia dapat digunakan untuk mengubah DNA individu untuk membawa perubahan structural dan fungsional yang diinginkan di dalamnya.
  
v  Kontra atau manfaat buruk Rekayasa Gentika
a.       Memungkinkan terjadinya pencemaran nutrisi
Rekayasa genetika dalam makanan melibatkan kontaminasi gen pada tanaman. Tanaman rekayasa genetika dapat menggantikan gulma alami. Mereka mungkin membuktikan menjadi berbahaya bagi tanaman alami. Mutasi genetic yang tidak diinginkan dapat menybabkan alergi pada tanaman.
b.      Memungkinkan kandungan Patogen berbahaya
Transfer gen horizontal dapat menimbulkan pathogen baru. Sementara meningkatkan kekebalan terhadap penyakit pada tanaman, gen resistensi mungkin akan ditransfer ke pathogen berbahaya.
c.       Dapat mengakibatkan cacat genetik
d.      Merugikan keragaman genetik
Rekayasa genetika dapat menghambat keragaman manusia. Cloning dapat merugikan individualitas. Selain itu, proses tersebut mungkin tidak terjangkau untuk massa, sehingga membuat terapi gen, mustahil bagi orang biasa.

            Berikut ini adalah pandangan orang yang pro mengenai produk transgenik yang salah satunya adalah kloning :
1.      Tidak ada hasil kloning yang berumur panjang, yang sehat seratus persen, dan tidak mengalami kerusakan genetik. Ada beberapa ulama yang menyatakan bahwa : “Kloning manusia itu haram dan harus diperangi serta dihalangi dengan berbagai cara.” Tetapi, jika kerusakan organ tubuh bisadiatasi dengan cloning, maka dipersilahkan untuk menempuh prosedur tersebut. Karena manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya.
2.      Teknologi rekayasa genetika sebenarnya bukanlah hasil orisinal para ilmuwan biotek. Dia hasil peniruan proses alamiah yang sudah ada seperti proses sintesis protein antibodi IgG dalam sel tubuh mamalia yang merupakan salah satu bentuk pertahanan tubuh dari serangan kuman penyakit. Berates jenis antibodi IgG dalam tubuh mamlia dikodekan oleh berbagai gen DNA yang merupakan hasil potong dan tempel (rekombinasi) alamiah berbagai fragmen DNA di dalam sel. Proses transfer gen antar-kingdom seperti bakteri Agrobacterium tumefaciens ke dalam selinangnya sudah terjadi sejak dulu tanpa campur tangan manusia. Proses inilah yang mengilhami rekayasa genetika tanaman, dengan memanfaatkan plasmid Agrobacterium sebagai pembawa gen dari sifat yang ingin dicangkokkan pada suatu tanaman.
Sebagai contoh, di Negara maju seperti Jepang, di mana masyarakat konsumennyaterkenal sangat rewel, makanan produk rekayasa genetika memang kurang mendapat tempat. Akan tetapi, orang Jepang sama sekali tidak memasalahkan pemanfaatan produk rekayasa genetika dalam bidang lainnya. Ambil contoh saja pembudidayaan bungan tulip di Jepang menjadi berbagai jenis dan warna dengan teknologi ini. Demikian pula produk rekayasa genetika lainnya dalam bidang kedokteran, seperti produk hormone insulin atau interferon. Atau penggunaan enzim hasil rekayasa genetika selulase atau proteinase pada sabun cuci.
3.      Domba Dolly merupakan Domba yang lahir dari proses kloning(rekayasa genetika). Dengan adanya kloning ini diharapkan aka nada individu yang memiliki sifat unggul, dolly adalah awal dari penciptaan individu unggul. Kloning ini juga kita temukan dalam pembentukan hormone insulin, yang berguna dalam bidang kesehatan. Pembuatan kloning gen untuk insuli adalah sel pancreas. Dengan adanya pembuatan gen insuli ini akan sangat membantu manusia dalam menangani penyakit diabetes. Bisa dibayangkan bila ilmu ini dikembangkan dengan benar, mungkin bukan Cuma diabetes saja yang bias diobati.
4.      Adanya bayi tabung dan bayi super ini memberikan harapan baru bagi pasangan suami istri yang tidak memungkinkan punya anak bias punya anak. Sel terlur yang telah di buahi secara in vitro dimasukkan kembali ke dalam rahim ibu. Bila tidak memungkinkan, dimasukkan ke dalam rahim bukan istri suami(inang). Selain bayi tabung, dikenal juga bayi super. Merupakan bayi dengan sifat unggul diperoleh dari sel sperma bukan suami yang merupakan orang yang unggul(sperma enstin dll) sehingga dihasilkan keturunan yang baik dan berkualitas.

Berikut ini adalah pandangan orang yang kontra mengenai produk transgenik yang salah satunya adalah kloning :
1.      Kebanyakan dikalangan mereka mengemukakan bahwa keberhasilan kloning manusia akan mengakibatkan sendi kehidupan keluarga menjadi terancam hilang atau hancur. Oleh karena itu manusia yang lahir melalui proses cloning tidak dikenal siapa ibu dan bapaknya, atau dia adalah percampuran antara dua wanita atau lebih. Sehingga tak diketahui siapa ibunya dan akan sulit dilacak keberadaan bapaknya, ketika anak hasil pengkloningan itu membutuhkan salah satu dari figur ayah atau ibu, ataupun figur keduanya. Dan kalau itu berulang terus, maka bagaimana kita dapat membedakan seseorang dari yang lain, yang juga mengambil bentuk dan rupa yang sama?
– ujar Syaikh Muhammad Ali al-juzu, seorang Mufti kelahiran Lebanon yang beraliran Islam Suni.
2.      Apabila dikatakan perbuatan tercela, kenapa tidak diprotes dari dulu? Sebelum teknologi transgenic ada, orang sudah melakukan berbagai kawin silang untuk membentuk hibrida. Hasil pertanian yang kita makan adalah benih hibrida hasil pemuliaan. Berbagai ras anjing yang ada sekarang muncul akibat kawin silang dan pemuliaan dan umpama anjing-anjing itu tidak diketahui selain dari fosilnya, maka orang mungkin mengira itu adalah spesies yang berbeda. Dan sebenarnya hasil kawin silang itu tentu saja jauh lebih banyak yang “gagal”, buruk dan tidak diketahui orang. Hanya sedikit yang bagusnya yang kemudian terus dikembangkan dan dijual untuk berbagai keperluan. Bahkan semenjak zaman dahulu orang sudah menyilangkan kuda dan keledai menghasilnya Baghal yang mandul dan tidak ada ulama yang protes dengan hal ini. Disamping itu bila rekayasa dikatakan tidak ilmiah, maka sebenarnya virus-virus dan bakteri tanah pun melakukan pemindahan gen dari satu spesies ke spesies yang lain. Dan kalau mutasi terjadi pada sel kelamin, bias diturunkan. Namun mereka melakukannya secara acak. Dalam kenyataannya hasil kawin silang juga menghasilkan kondisi yang tidak dipastikan, dan seringkali hasilnya aneh-aneh juga. Dalam rekayasa genetika setidaknya orang tahu gen apa yang dirubah atau yang dapat diperkirakan. Sedangkan dalam kawin silang, sulit diramal ekspresi fenotip yang akan terjadi.
3.      Adanya bayi tabung dan bayi super sangatlah tidak etis mengatur kelahiran seorang anak manusia seperti tersebut. Manusia memiliki akal budi dan etika yang melarang perzinahan. Jika menggunakan sel sperma yang bukan suami kita walaupun Cuma sel spermanya apakah ini bukan perzinahan? Walaupun tujuannya untuk mendapatkan bayi yang super.
Masih banyak lagi pro dan kontra dari masyarakat yang membahasa mengenai produk hasil rekayasa genetika. Munculnya pro dan kontra tersebut berdasarkan sudut pandang orang masing-masing dan sejauh mana dia mengetahui topik tersebut.
Menurut saya, tindak percobaan rekayasa genetika boleh dilakukan, tapi ilmiah saja tidak cukup karenan diperlukan etika yang memihak kepentingan orang banyak. Perlu diakui bahwa hakikatnya tidak ada teknologi tanpa risiko, walaupun demikian konsumen perlu tahu kemungkinan apa yang dapat terjadi apabila seseorang menggunakan teknologi atau produk teknologi itu.

Kesimpulannya, perang antara yang pro dan kontra terhadap produk hasil rekayasa genetika bias dikatakan sebagai perang yang berdasarkan dugaan dan perasaan semata-mata. Sampai sekarang tak ada data ilmiah yang jelas-jelas mengatakan produk tersebut tidak aman.